Jumat, 04 November 2016

Bersandar di Batu Karang

Raja Ampat/Arnee
Menulis katanya adalah sebuah perjalanan dan sekarang  malah bersandar di sebuah batu karang tanpa memedulikan perjalanan masih panjang di depan

Memilih berhenti (entah sesaat) karena tak tahan dengan pemandangan, hanya sesekali melihat  matahari jingga di ujung cakrawala...
selebihnya..badai

Bertahan dengan berhenti dan bersandar mungkin jalan  terbaik (untuk sesaat)
tapi sampai kapan tubuh  terus bersandar...

Membuat tangan dan kaki  kelu untuk sekadar bergerak menggores dan memaknai kata
entah...

Suatu ketika nama Natalie Goldberg muncul di depan mata "Writing Down the Bones".

Di batu karang ini... mencoba mencari keheningan
mengalirkannya dalam kata untuk menciptakan makna...mengikatnya dan mengabadikannya

Menjadi diri..pribadi
Seperti sungai jernih mengalir lepas diantara riak hingga bermuara ke danau tenang untuk sekadar diam.

Tapi dalam diam itu tanpa disadari ada sebuah sisi dalam diri yang seringkali tak pernah ditemukan

And Natalie said :
If everything sat down, u expected sumthing gr8
writing would always be a gr8 disappointment...

In writing, when u're trully on, there's no writer, no pen, no thoughts. Only writing does writing-everything else is gone...

We must continued to open and trust in our own voice n process...

Let ur whole touch the river u writing about, so if u call it yellow or stupid or slow, all of u is feeling it.
There should be no separate u when u're deeply engaged...

Sabtu, 21 September 2013

Lompatan (Tak Selalu) Indah


Pasir Timbul Raja Ampat
Suatu malam ketika kami bersantai di Raja Ampat Dive Lodge, teman seperjalananku  berseru sambil menunjuk  teman sekolahnya di Birmingham bernama Michael yang kebetulan nongol di televisi.
“Yah, lompatanmu gagal lagi,” ungkapnya sedikit kecewa kepada atlet yang tengah berlaga di sebuah kejuaraan lompat indah tingkat dunia yang ditayangkan live di jaringan televisi berbayar.
Hmm, aku hanya bergumam setelah melihat lompatan Michel di atas kolam. “Manuver putaran tiga kali dari tubuh lenturnya masih dibilang gagal?”

Selintas kemudian pikiran dan ingatanku berkelana pada rentetan peristiwa yang aku alami. Seperti Michael yang harus berjuang keras memperebutkan medali. Beberapa bulan terakhir ini aku justru diberi berkah kemudahan  untuk membuat lompatan indah dalam hidup. Merasakan banyak hal baru yang “wah” dan menyenangkan.

Berkah luar biasa yang justru sering kutemui dan datang dengan tiba-tiba seperti jidat gejedot kaca ketika memasuki ruangan karena nggak memperhatikan kondisi sekitar. Petualangan demi petualangan baru  terus mempercantik lompatanku hingga beberapa teman sering mengucap kata “ how lucky you are”.

Yes, im the lucky one karena nggak semua orang bisa mendapat kesempatan seperti diriku. Tapi tahukah bahwa sebenarnya  kesempatan itu telah kuciptakan jauh hari meski tanpa aku sadari sebelumnya. Dan kalaupun tiba-tiba aku memanen kesempatan itu, Alhamdulillah ya..begitu kata Syahrini, hihii.

Ya, begitupun dalam hidup. Orang hanya melihat energi positifku menikmati lompatan indah  yang “blink-blink” itu terpancar karena orang juga nggak pernah tahu di balik lompatan itu, aku juga sering membuat manuver salah dan “gagal” seperti yang dialami Michael. Orang nggak melihat “how stress i am” atau betapa saya ingin “misuh” pada orang yang sok berwibawa bermental serigala, (maaf).

Energi negatif seperti itu tentu saja harus kusimpan sendiri atau bahkan kumuntahkan sendiri tanpa seorangpun tahu karena aku nggak ingin mengumbar hal yang hanya akan merusak lompatan indahku.
Apalagi Bu Dwi, dosenku memberi contoh ketika menjelaskan  salah satu teori komunikasi itu bilang “Apapun yang kita lakukan itu sudah terbaik dan  yang harus kamu ingat bahwa semangat hidup itu indah. Berpikirlah positif.”

Ya, sadarlah bahwa hidup itu indah dan tidak perlu merisaukan hal-hal yang mengusikmu. Anggap aja itu cuman kerikil yang bisa diisingkirkan dengan kaki. Itu hanya keringat yang bisa diseka dengan tisu. Atau air pasang yang nanti juga akan surut lagi.

Tapi aku juga kagum dengan Om Berjoez, guide kami yang membawa kami mengelilingi kawasan Waisai Raja Ampat itu memamerkan kebolehannya melompat indah selepas kami menikmati pulau karang di Fainemo. Dia berdiri di atas boa, melepas kaosnya dan sesaat kemudian memutar tubuhnya dua kali sebelum tercebur ke air. Padahal ketinggian dari boat hingga air hanya sekitar tiga meteran!

Dan itu membuat saya terus termenung di sepanjang perjalanan menuju resort tempat kami menginap di pulau Mansuar. Diantara ombak yang tergerus deru mesin boat, jutaan bintang di langit dan  kerlip ubur-ubur di malam itu. What a wonderful life…

Dan yakinlah bahwa kamu juga bisa melompat dengan indah. Meski kadang lompatan itu nggak selalu bisa memuaskan dirimu dan orang di sekelilingmu. (non)

Minggu, 28 April 2013

Ketika Jantung Bergejolak...The Winner is...



next destination
Entah kenapa saya nggak punya passion untuk mengikuti segala macam yang namanya lomba yang berbau tulis menulis. Meskipun aktivitasku selama ini nggak jauh dari urusan ketak ketik

Meski begitu aku pernah ikut lomba tapi  bisa dihitung dengan lima jari. Kalau nggak salah ingat  hanya dua kali. Yang pertama lomba karya jurnalistik Indonesia Radio Award pertama yang diadakan tahun 2009 lalu. Pemenangnya temen baikku sendiri, satu pelatihan dan satu tim mentor. Sedangkan liputan investigasiku tentang limbah batik cuman nongol jadi finalis, hehee.

Yang kedua lomba karya jurnalistik yang diselenggarakan UNDP 2009  tema Keadilan dan HAM. Dan lagi-lagi belum berbuah manis dengan kemenangan. Dan cuman disebut-sebut sebagai salah satu finalis. Pemenangnya ya teman di radio jaringan di Jakarta.

Selasa, 23 April 2013

Kehilangan Itu...


my shawl


Pernah kehilangan sesuatu, seseorang atau apa pun yang kamu anggap penting? Aku yakin pasti udah pernah meskipun yang hilang itu hanya flashdisk atau bolpoin. Kalau saya sih nggak hanya sekali, tapi bertubi-tubi.
Rasanya? Jangan tanya deh, seperti orang putus cinta, hahaha.... Nggak enak makan dan tidur, ingin marah, nangis. Sebal dengan diri sendiri bahkan meratapi kehilangan itu hingga berhari-hari. Hiks!

Meski itu hanya sebuah syal? Ya, aku masih ingat ketika barang yang semestinya terlilit di leher justru nongkrong di atas tas yang terselempang di pundak. Dengan santainya melenggang turun dari kereta di stasiun Bandung tanpa menyadari benda peninggalan seorang kawan yang kudapat tahun lalu itu melayang dengan suksesnya entah ke mana. Sialnya, baru kusadari benda kesayangan itu lenyap setelah menikmati secangkir kopi di kafe ruang tunggu stasiun.

''Tolong tanyain portir yang lewat di jalur ini. Harganya sih nggak seberapa tapi syal itu sangat berarti bagi saya,'' ujarku pada portir yang bersedia membantu mencarikan syal asal Lombok.

Minggu, 17 Maret 2013

Backpacker Wanna Be

its me


Jujur, setiap kali membaca kisah perjalanan para backpacker dunia, aku selalu takjub. Ya, keberanian, tekad dan kegilaaan menikmati pilihan hidupnya membuatku ngeces dan penasaran ingin mengikuti jejak gila mereka. 

Mereka bukanlah backpacking yang memanfaatkan liburan, cuti kemudian kembali ke kampung halaman. Tapi meninggalkan rumah dan hidup nomadik dari satu tempat ke tempat lainnya secara kontinyu.

Nggak punya alamat tetap! Ya, melakukan perjalanan tanpa beban. Asyik dan nggak ribet memikirkan tetek bengek macam highheels, make up tebal, hengot, party, bla..bla..bla.... Bekalnya cuman tas gendong alias ransel seberat 12 kilogram di punggungnya yang berisi pakaian secukupnya dan keperluan lain yang memang benar-benar penting kayak baju renang dan alat mandi, hehee.

Senin, 11 Maret 2013

Tips ke Papua…




Tips en trik ketika berada di Papua sebenarnya tergantung ke mana arah angin membawamu. Maksudnya, tergantung wilayah yang  kamu tuju. Tapi secara umum sih ini ini juga bisa menjadi referensi

Nah, aku cerita saja soal pengalamanku dua kali pergi ke Papua

Pengalaman pertama:
Tujuanku ke Papua Barat, tepatnya ke Abun.
Ini trip nekat. Bagaimana nggak. Aku hanya butuh waktu empat jam untuk meng-iyakan pergi, persiapan dan berangkat menuju bandara A Yani Semarang. Tentu saja termasuk meyakinkan si emak dan mencari tiket ke Jakarta. Jujur aja kalau bisa dibilang aku nekat dan tanpa persiapan. Apalagi ternyata medan yang di sana butuh fisik plus..nekat tadi, hehe.

Melanjutkan Perjalanan




Gleek, tentu aja mulut kami langsung terkunci rapat mendengar ancaman yang nggak main-main.
Om Barnabas langsung turun tangan en jelasin kesalahpahaman si pemilik parang. Lebih kurang setengah jam semudian suasana ’’mencekam’’ udah bisa terkontrol kembali. Beberapa orang penduduk asli pergi meninggalkan kami.

Dengan kondisi kayak gitu, tentu aja kami memilih diam dan menyingkir perlahan. Permasalahan kemudian diselesaikan tim WWF.

Karena nggak ada yang ngomong banyak, akhirnya aku dan beberapa temanpun ikut menyingkir dari arena pertempuran. Kami memilih jalan-jaan di sekitar kampung. Melihat aktivitas warga yang jumlahnya tak seberapa. Anak-anak kecil bertelanjang dada berlarian.

Dan melihat sisa gempa di Manokwari yang meruntuhkan seuah sekolah satu-satunya di sini. Ya, anak-anak terpaksa tak bisa merasakan belajar dengan nyaman di gedung sekolahnya yang nyaris roboh. Sebagai gantinya beberapa tenda doom dipasang tak jauh dari bagunan sekolah. Tenda-tenda itu dipenuhi kursi dan menjadi sarana belajar sementara. Sungguh miris..

Minggu, 06 November 2011

Menyusuri Kepala Burung Papua

senja di Jamursbamedi


Dan malam itu juga, kami harus keliling kotaSorong mencari apotik yang menjual obat anti malaria. Nggak kebayang  kalau tergigit nyamuk yang satu ini. Siksaannya bisa seumur hidup kalau lagi kumat.

But thanks God...
Dapet juga obat yang kami cari, meski dengan harga yang ekstra jauh lebih mahal daripada beli di apotik sekitar rumahku. Nggak pake nunggu lagi, kami langsung menegak dua butir obat anti malaria. Saat itu juga..sambil berdoa nggak akan ketemu nyamuk ini.

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali..hiiiii

Jumat, 04 November 2011

Papua...im coming!!

 
Pesawat yang kami tumpangi untuk berapa lama tetap bertahan berada di ketinggian dan memilih tidak mendarat. tidak memungkinkan dengan alasan keselamatan. Alamaak...pikiran langsung ikut melayang bersama pesawat yang kutumpangi. Kemana arahnya..nggak jelaas.

Apalagi ini pengalaman pertamaku berada di dalam badan pesawat hingga berjam-jam. Aku nggak berhitung waktu lagi. Aku nggak ingat berapa lama pesawat yang kami tumpangi berputar-putar di atas langit Sorong yang diguyur hujan deras plus petir.

Hingga semua berakhir...

Kamis, 03 November 2011

When Dream Come True…Papua?

Selamat datang Jayapura


Catatan perjalanan ke Papua

Keberangkatanku ke Papua untuk pertama kalinya di bulan Juni 2009 bisa dibilang surprise atau give dari yang di-Atas atau tombo ati, aku tidak tahu.

Semua berawal ketika baru beberapa hari aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempat bernaungku mencari duit selama lima tahun terakhir disebuah radio penyiaran lokal yang ada di Semarang. Juga tak lama aku ketiban apes karena gadget yang lumayan canggih dan biasa kugunakan untuk menyimpan semua tetek bengek hal nggak penting sampe hal penting terorganiser di dalamnya. Harus amblas karena keteledoranku. Aku mengambil uang di ATM dan menaruh hape di mesin anjungan. Setelah selesai, aku ngacir begitu saja karena terburu-buru dan melupakan barang berhargaku di situ. Setelah ku urus aku menyaksikan dengan jelas dari kamera CCTV seorang laki-laki muda mengambil dan mengantongi hapeku dengan tenangnya..dan aku nggak bisa berbuat apapun kecuali mengumpat....siiiaaall.

Rabu, 02 November 2011

The Last Dinosaurs From Papua


Indonesia merupakan rumah bagi enam dari tujuh spesies penyu yang ada di dunia. Dua di antaranya adalah penyu Belimbing dan penyu Lekang. Dua spesies yang terancam kepunahan tersebut kerap ditemukan di pantai Jamursbamedi dan Pantai Warmon yang berada di kawasan Konservasi Abun, Papua.
Pantai-pantai itu menjadi tempat peneluran terbesar di Pasifik Barat. Mereka datang dan bertelur sepanjang tahun.

Sangat menggembirakan ketika saya berkesempatan mengikuti perjalanan Tim Konservasi Penyu World Wild Fund of Nation WWF di Papua pada musim peneluran. Tujuannya untuk memonitor penyu Lekang dan penyu Belimbing.

Great traveling


Hiiiii…welcome to my new blog. Ini blogku ke sekian yang sudah ku publish. Meski kadang aku biarin gitu aja.

Ide bikin blog ini sebenarnya sederhana banget. Berawal dari beberapa tulisanku di media yang udah dimuat dan hilang entah kemana. Makanya aku coba kumpulin lagi biar aku dan pembaca blog ini bisa menikmati lebih lamaaaa...